Mundur dari Gerindra, Mohammad Nuruzzaman Bongkar Cara Partainya Menangi Pilgub DKI Jakarta


Gentanusa.com ~ Partai Gerindra harus kehilangan seorang kader sekaligus petingginya.

Mohammad Nuruzzaman mundur sebagai kader sekaligus Wakil Sekjen (Wasekjen) Partai Gerindra.

Terkait hal itu, Sekjen Partai Gerindra pun angkat bicara.

Fadli Zon sebut mundurnya Nuruzzaman dari partai Gerindra karena ingin pindah partai.

Hal tersebut ia sampaikan melalui media sosial, twitternya.

Tak hanya itu Fadli juga mengatakan Nuruzzaman memang sudah lama tidak aktif di partai.

Lantas bagaimanakah tanggapan Nuruzzaman atas tudingan Fadli Zon? Benarkah Nuruzzaman mundur demi bisa masuk partai lainnya?

Mari Kita simak kisah selengkapnya!

Dilansir dari TribunJakarta yang berusaha menghubunginya melalui Whatsapp, Nuruzzaman beri tanggapan seputar tudingan Fadli Zon.

Ia mengatakan dirinya hanya ingin mundur saja.

"Saya mundur ya mundur saja," ujar Nuruzzaman, Rabu (13/6/2018).

Nuruzzaman juga tegas membantah tudingan Fadli yang sebut dirinya ingin pindah ke partai lain.

"Enggak ada niat sampai hari ini untuk masuk partai lain," jelas Nuruzzaman.

Saat ini Nuruzzaman mengatakan dirinya hanya ingin berfokus pada Ansor dan Banser saja.

"Mau khidmah di Ansor dan Banser saja," terang Nuruzzaman.

Nuruzzaman juga membantah kabar yang menyebut dirinya di calonkan partai lain.

Menurutnya kabar tersebut dapat tersebar karena ketidaktahuan pihak yang menudingnya.

"Ya karena ketidaktahuan mereka," jelas Nuruzzaman.

Diberitakan sebelumnnya merasa tersindir dengan cuitan Fadli Zon, Nuruzzaman putuskan mundur dari Partai Gerindra.

Nuruzzaman menyatakan dirinya mundur melalui surat terbuka yang ia unggah di Facebooknya.

Pria yang menjabat Wakil Sekjen Partai Gerindra ini mundur karena tak terima dengan sindiran Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon terhadap Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Cholil Staquf.

Setelah kabar Nuruzzaman mundur tersebar, Fadli Zon bongkar sebuah fakta.

Bagaimana kisah selengkapnya? Mari Kita simak!

Fadli Zon menyindir terkait kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel dalam kepentingan membela Palestina.

Perkataan ini memancing kegeraman Nuruzzaman, yang notabene adalah Kadensus 99 Banser NU.

Dirinya langsung membalas cuitan itu dengan bertekad akan menggembosi Partai Gerindra.

"Selama ini sy diam dan tidak pernah berkomentar apapun soal @Gerindra @prabowo dan @fadlizon karena saya pernah nyalon dpr ri lewat gerindra tahun 2014. Tp hari ini saya akan siap bertarung menggembosi @Gerindra krn kelakuan @fadlizon cc @GPAnsor_Satu @mantriss @GunRomli @qitmr"

Ia juga mengajak agar tidak memilih Gerindra dan PKS.

Selain itu, melalui akun Facebook-nya, ia juga menuliskan surat terbuka terkait pengunduran dirinya dari Partai Gerindra.

Berikut isi surat terbukanya.

 "Izinkan sy mundur jika iya memang sudah begini keadaanya.

Kepada Yth,
Bapak Prabowo Subianto
Ketua Umum DPP Partai Gerindra
yang saya banggakan

Dengan hormat,

Melalui surat ini saya akan sampaikan hal yang pribadi terkait posisi saya sebagai kader dan juga pandangan umum yang saya dapatkan ketika melakukan turlap yang berhubungan dengan isu dan hal strategis terkait Partai Gerindra.

Pertama, perlu saya sampaikan kepada Bapak bahwa saya bergabung dengan Gerindra pada medio 2014, tepat di masa pertarungan Pilpres. Dan saya berbangga hati bisa mengawal Bapak di perhelatan akbar Pilpres melawan Bapak Joko Widodo.

Hal utama dan terutama yang melatarbelakangi saya mendukung Bapak adalah jiwa kepedulian dan keberanian. Dua hal itu adalah napas saya untuk berjuang bersama Gerindra. Karena karakter kita sama maka saya merasa berada di rel perjuangan yang benar.

Saya juga pernah mencalonkan diri sebagai Caleg pada tahun yang sama, 2014 dan saya masuk di kepengurusan Partai Gerindra walau jarang diundang mengikuti rapat. Tidak terlalu masalah bagi saya karena selama Bapak yang pimpin saya pertaruhkan kepercayaan saya dan ikhtiar saya ke Gerindra.

Bahkan saya masih bangga walau Bapak kalah, tapi muka dan dada Bapak tidak menunjukkan kekalahan sebab Bapak adalah pemenang bagi saya.

Waktu pun berjalan. Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar KEPENTINGAN SAJA! Mark my words Pak Prabowo.

Manuver Gerindra yang sangat patriotik sekarang lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politis busuk yang hanya berkutat pada kepentingan saja, sama sekali hilang INDONESIA RAYA yang ada di dada setiap kader Gerindra.

Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitnya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat.

Isu SARA yang sudah melampaui batas dan meletakkan Jakarta sebagai kota paling intoleran adalah karena kontribusi elit Gerindra yang semua haus kekuasaan dunia saja, tanpa mau lagi peduli pada rakyat di mana Bapak harusnya berpijak.

Saya adalah santri yang berjuang berdasarkan platform kepedulian dan keberanian.

Garis yang sama seperti saya kenal Bapak di awal yang kemudian saya kecewa karena Bapak sudah makin tuli untuk mendengar kami yang masih ingin berjuang demi Indonesia melalui Partai Gerindra.

Oleh sebab itu, saya sudah berfikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontibusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodir. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas.

Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah.
Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden.

Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah, sesuatu yang Pak Prabowo tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja.

Akhir kata, saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun.

Semoga Bapak selalu sehat.

Cirebon, Selasa, 12 Juni 2018

Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq
Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mohammad Nuruzzaman
Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra"

Selain itu, beredar pula rekaman video yang memperdengarkan Nuruzzaman bacakan surat terbuka.

Pantauan TribunJakarta.com, di media sosial twitter, Fadli Zon bongkar sebuah fakta terkait mundurnya Nuruzzaman.

Menurutnya Nuruzzaman memang sudah lama tidak aktif di Partai Gerindra.

Baca: Angga Wijaya Ungkap Asal Candaan ‘Sayur Lodeh’ yang Bikin Dewi Perssik Marah, Bermula dari Pijit

Tak hanya itu, menurut Fadli Zon, Nuruzzaman juga bukan merupakan Wakil Sekjen.

"Seingat sy ia sdh lama tak aktif di n bukan Wakil Sekjen," tulis Fadli, Rabu (13/6/2018).

Fadli mengungkapkan Nuruzzaman ingin pindah ke partai lain.

"Kabarnya mmg mau pindah partai. @Gerindra selalu berjuang utk Indonesia Raya." tulis Fadli.









Sumber: tribunnews.com

0 Response to "Mundur dari Gerindra, Mohammad Nuruzzaman Bongkar Cara Partainya Menangi Pilgub DKI Jakarta "

Posting Komentar

close
Banner iklan disini