Meneladani Sikap Sabar dan Memaafkan dari Gus Dur


Gentanusa.com ~ Terkadang memaafkan bukan perkara mudah bagi seseorang. Apalagi bagi orang-orang yang merasa persoalan mereka begitu berat.

Di dalam batin mereka bukan tak mungkin akan bergejolak antara kesediaan memberikan maaf atau tidak. Di titik ini, maka kata maaf bisa jadi sulit terucap, hingga akhirnya berlalu dan terpendam.

Bagi Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memaafkan berkaitan erat dengan kesabaran. Menurut dia, sulit rasanya tercipta maaf bila seseorang tak memiliki kesabaran. Untuk sikap soal kesabaran dan memaafkan itu, Gus Dur berpegang teguh dengan dua surat di Al Quran, yakni Surat Al Ashr ayat 1-3 untuk kesabaran dan Al Syura ayat 30 terkait memaafkan.

Dalam tulisannya yang berjudul “Besabar dan Memberi Maaf” di Memorandum tahun 2002, disebutkan beberapa tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi dan Marthin Luther King menerapkan sikap bersabar dan pemaaf dalam perjuangan masing-masing.

Gandhi menolak kekerasan dalam perjuangannya di India dan Marthin Luther King yang gigih memperjuangkan hak-hak sipil warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Menilik contoh itu, kesabaran dalam membawakan kebe­naran disebut Gus Dur sebagai sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sehingga, ia berpendapat bahwa setiap manusia memang memilki sifat kesadaran pentingnya bersabar. Lebuh jauh lagi, Gus Dur menilai bahwa konflik akan diliputi kekerasan tanpa kesabaran.

"Su­dah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah," tulis Gus Dur.

Mukhlas Syarkun (2009) dalam Ensiklopedi Abdurrahman Wahid: Spiritual Power Gus Dur mencontohkan sikap sabar dan pemaaf Gus Dur dalam menghadapi isu miring.

“Dalam era kepemimpinan Gus Dur sebagai Presiden Indonesia, entah sudah berapa banyak cacian, fitnah, teror dan sebagainya. Namun sepanjang kepemimpinannya itu lah Gus Dur tetap memperlihatkan kesabaran dan jiwa pemaafnya. Seperti guyonannya, “gitu aja kok repot.”,” tulis Mukhlas.

Sikap pemaaf Gus Dur lain mungkin tercermin dari kisah sepotong roti dari mantan ajudan Gus Dur, Priyo Sambadha. Cerita itu bermula kala Priyo yang merasa lapar dan terpaksa mengambil sepotong roti milik Gus Dur.

Roti isi gula itu langsung dimakan dengan perlahan. Peristiwa ini menarik lantaran Gus Dur bertanya soal sepotong roti hidangannya. Priyo pun kalang kabut dan takut bukan kepalang. Ia bergegas ke dapur dan membuatkan sepotong roti baru. Setelah dibuatkan roti baru, Gus Dur langsung melahap dan mengatakan kenyang karena memakan roti dari Priyo.

Priyo sendiri menyadari bahwa Gus Dur mengetahui tindakan Priyo. Namun, Gus Dur tak menyinggung dan membiarkan peristiwa itu berlalu.

Dari situ, Priyo memetik pelajaran bahwa Gus Dur memiliki sikap pemaaf. Barangkali sifat penyabar dan pemaaf Gus Dur ini turun dari sang ayah, Wahid Hasyim. Greg Barton (2002) dalam The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid menceritakan sikap Wahid Hasyim saat dicopot dari jabatan Menteri Agama.

Pencopotan karena masalah perjalanan haji itu sontak membuat teman-teman Wahid geram dan kecewa. Dengan santai, Wahid pun mengatakan tak memiliki rasa kecewa atas pecopotan dari kursi Menteri Agama.

“Saya masih bisa duduk di rumah saya. Ada beberapa kursi dan sebuah dipan panjang yang nyaman. Saya tinggal memilih,” ucap Wahid yang ditulis Barton.

Jawaban Wahid nampaknya belum memuaskan. Mereka menganggap pemerintah saat itu tak lagi memakai jasa pemimpinnya.

“Nah, kalau pemerintah tidak memperoleh kemaslahatan dari diri saya, maka sayalah yang akan mendapatkan maslahat itu untuk diri saya,” tulis Barton seperti ucapan Wahid.

Resource Berita : Kompas.com

0 Response to "Meneladani Sikap Sabar dan Memaafkan dari Gus Dur"

Poskan Komentar

close
Banner iklan disini