Ini Kisah Pertempuran Orang Tionghoa Melawan Kolonial Belanda di Indonesia

Gentanusa.com ~ Dijajah selama ratusan tahun, membuat Indonesia mempunyai sejarah yang kelam mengenai perjuangan mereka melawan kolonial Belanda. Kisah perjuangan bangsa Indonesia hingga saat ini masih terekam jelas lewat buku-buku sejarah dan arsip nasional sebagai bukti sejarah yang tidak akan pernah terlupakan.

Dari sekian banyak pertempuran melawan kolonial Belanda, ada satu pertempuran yang bukan dilakukan oleh masyarakat lokal, melainkan bangsa pendatang yang sudah menetap di Indonesia beratus-ratus tahun silam ikut angkat senjata melawan. Yaitu perjuangan masyarakat etnis Tionghoa di Lasem, Jawa Tengah yang dikenal dengan Perang Kuning atau Geel Oorlog.

Dilansir dari Goodnewsfromindonesia--Thomas Benmetan, Kamis 29 Desember 2016, Perang Kuning atau Geel Oorlog merupakan serangkaian perlawanan rakyat Lasem terhadap kekuasaan kolonial Belanda yang dulu dikenal dengan sebutan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Secara khusus, perlawanan tersebut di latarbelakangi oleh rusaknya perekonomian karena harga komoditas yang mulai anjlok dan menyebabkan beberpaa pabrik ditutup dan pekerja dipecat.

Hal itu pula yang menyebabkan terjadinya pembantaian habis-habisan warga etnis Tionghoa di Pecinan pada 1740 oleh pasukan Belanda. Akibatnya, banyak imigran Tionghoa memutuskan untuk mengungsi ke Lasem.

Di Lasem, etnis Tionghoa sangat diterima oleh masyarakat setempat. Mereka tidak pernah terlibat peperangan, serta memiliki kebencian yang sama pada VOC karena perusahaan dagang tersebut mengeruk apa saja yang ada di negeri ini tanpa meninggalkan sisa apapun. Lasem pada saat itu merupakan daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.
Namun sejak 1679 dengan bantuan Amangkurat II, Belanda menyerang Lasem agar dapat memonopoli perdagangan di pesisir utara Pulau Jawa. Di sini, mereka bergabung dengan pasukan pribumi dan melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda.

Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Oei Ing Kiat atau Raden Tumenggung Widyaningrat yang saat itu merupakan Bupati Lasem, Raden Panji Margono dan Kiai Baidlawai. Ketiga orang tersebut menjadi representasi dari pasukan nusantara yang merupakan gabungan dari kaum Tionghoa, Jawa dan para Santri.

Bahkan berkat pemberontakan besar-besaran ini, semangat melawan menyebar ke seluruh Jawa. Pihak Belanda yang selama ini merasa didukung oleh orang Jawa merasa tertipu mentah-mentah karena orang Jawa lebih memilih berjuang bersama kaum Tionghoa untuk melawan Belanda dengan berpura-pura melawan kaum Tionghoa.

Tak hanya dalam waktu singkat, perlawanan tersebut berlangsung hampir tiga tahun lamanya, yakni mulai 1741-1743 sejak bergabungnya Laskar Tionghoa dan Jawa. Mereka perlahan menyerang ke seluruh pertahanan VOC yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun usai Tan Sin Ko dan Tan Kee We gugur dibunuh serdadu VOC. Perjuangan demi perjuangan dilakukan hingga berakhir pada tahun 1743 dengan hasil akhir Belanda memenangkan perang tersebut dan menandakan jatuhnya Kesultanan Semarang yang memicu berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Walaupun kemenangan berakhir di tangan kaum Belanda yang setelah itu langsung memantapkan kekuasaannya di tanah Jawa melalui perjanjian dengan Pakubuwono II, perang kuning ini menjadi saksi sejarah tersendiri dari perjuangan kaum Tionghoa. Mereka turut merasakan bagaimana penderitaan kaum yang terjajah oleh bangsa lain, dan berjuang bersama sampai akhir.


Sumber: otonomi.co.id

0 Response to " Ini Kisah Pertempuran Orang Tionghoa Melawan Kolonial Belanda di Indonesia "

Posting Komentar

close
Banner iklan disini